Zul, Si Sopir Taxi yang Jago Bicara Politik

Kebijakan ganjil genap yang diterapkan di beberapa ruas jalan baru di Jakarta membuat saya harus naik taxi. Maklum taxi online juga banyak yang terjebak kebijakan ganjil genap ini.

Dan bersyukur saya mendapatkan orang yang memiliki wawasan yang cukup luas, tidak hanya tentang transportasi tapi juga politik.

Dalam perjalanan, saya awalnya tidak tertarik dengan berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan oleh si pengemudi. Namun ketika dia mengalihkan pembicaraan tentang hasil pilkada 27 Juni lalu, saya jadi bergairah untuk mendengar.

Nama sopir itu Zul. Dia dari Bogor. Pada awalnya dia bertanya tentang daerah asal saya, kemudian berbicara tentang agama.

Tapi ketika dia mulai bicara tentang agama dan tokoh-tokoh, saya waswas supaya tidak terjebak dalam pembicaraan yang tidak menguntungkan saya. Bukan kenapa-kenapa. Saya takut berbicara tentang tokoh-tokoh agama dan ternyata pembicaraan direkam oleh si pengemudi.

Tapi syukurlah tidak terjadi seperti itu.

Saya sebetulnya memiliki banyak segudang informasi berkaitan dengan tokoh-tokoh agama. Tapi karena kekhawatiran itu tadi maka saya tidak antusias menanggapi percakapan seputar agama.

Namun si sopir rupanya membaca ketidaksukaan saya pada topik tersebut. Lalu dia mulai berbiacara tentang partai politik dan pilkada yang baru lewat.

“Mas, lihat saja nanti berita tentang kepala daerah yang kena OTT (operasi tangkap tangan) oleh KPK,” begitu kata Zul.

“Atau mungkin juga berita tentang orang-orang yang kalah meskipun sudah menghabiskan miliaran rupiah untuk membiayai pencalonan dan kampanye,” kata Zul lagi.

Yang tidak kalah menarik adalah ketika dia menyebut tentang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menurut dia sudah kehilangan taringnya. Kata dia PDIP tidak secemerlang Partai Nasdem. Pasalnya, di banyak tempat sebagian besar kandidat yang dijagokan partai ini kalah.

Misalnya dalam Pilgub Jawa Barat. Calon yang diusung PDIP kalah. Dia juga menyebutkan beberapa wilayah -yang tidak sempat saya cross check- termasuk Kalimantan Barat.

Kata Zul, meskipun yang menang adalah orang-orang yang pro-pemerintah, yang pro Jokowi, namun kemenangan mereka tidak berarti kemenangan PDIP.

Menurut Zul, PDIP itu ibarat mobil tua yang sudah banyak melakukan perjalanan jauh dan harus turun mesin, supaya bisa tampil lebih prima dalam menyongsong piplres dan pileg 2019 nanti. 

Saya pun mengamini perkataan beliau meskipun untuk sampai pada konklusi bahwa PDIP harus turun mesin membutuhkan analisis tentang faktor-faktor lain.

Namun demi kebaikan PDIP, sebagai partai penguasa, maka sebaiknya berbenah diri agar bisa menjadi kendaraan yang bisa diandalkan oleh Jokowi dalam pemilu tahun depan.

Rupaya Zul dan saya dalam gerobak yang sama, mendukung agar Jokowi menang pada pilpres 2019.

Salam hangat. #2019OgahGantiPresiden #Jokowi2Periode

Sumber foto: The Guardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *