Tidak Heran Jika Susi Pudjiastuti Jadi Target Serangan Kartel

Sharing is blessing....

Saya tidak heran ketika Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan baru-baru ini mengatakan bahwa perekonomian Indonesia saat ini dikuasai oleh kartel pangan dan energi. Pangan dan engergi merupakan dua hulu utama yang menjadi darah dan nadi perekonomian negara ini.

Menurut BIN, Susi Pudjiastuti menjadi target operasi jaringan kartel karena kegigihannya memperjuangkan kedaulatan pangan. (Foto:Kumparan.com)

Di negara dan benua mana pun, jika memungkinkan, kartel pasti akan menargetkan sektor-sektor ‘gendut’ untuk dikuasai, secara curang dan masif. Dan bagi Indonesia sektor pangan dan energi adalah sektor gendut, yang memiliki banyak potensi kekayaan.

Sebenarnya ini bukan isu baru. Kita sudah seringkali mendengar kartel migas. Masih ingat dengan cerita tentang Petral yang konon didirikan untuk mengendalikan impor minyak Indonesia? Itu salah satu bagian dari kartel energi seperti yang disebutkan Budi Gunawan.

Ada juga kartel dalam bidang perikanan. Jaringan kelompok ini juga kuat dan mereka terus berupaya menggoyang kursi Susi Pudjiastuti dengan sangat kencang supaya dia terpental dari pucuk teratas Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Betapa tidak. Ibu menteri ‘norak’ ini sudah menenggelamkan ratusan kapal asing maupun nasional yang melakukan pencurian ikan -illegal fishing-  di perairan nusantara. Bahkan sepanjang tahun 2016, Susi sudah menenggelamkan 236 kapal, sebagian besar merupakan kapal dari negara lain paling banyak dari Vietnam, 96 kapal.

Bulan April 2017 lalu, di bawah komando Susi Pudjiastuti, sebanyak 81 kapal lagi yang ditenggelamkan secara serentak di beberapa lokasi. Lagi-lagi kapal berbendera Vietnam paling banyak.

Siapa yang tidak marah, coba? Kalau satu perusahaan ada lima kapal yang dihancurkan Susi, marah tidak? Marah besar tentunya. Makanya baik partner di luar negeri maupun yang di dalam negeri akan berusaha agar tidak ada lagi kapal mereka yang ditenggelamkan.

Caranya? Dengan mencampakkan Susi Pudjiastuti. Tidak mudah memang untuk melakukan itu karena orang nomor satu negeri ini, Presiden Joko Widodo, sangat mendukung langkah Ibu Susi. Bahkan Jokowi suatu ketika bercanda bahwa dirinya tidak seberani menteri Susi.

Nah, karena dia sulit disingkirkan melalui konspirasi jalur dalam -via kabinet- kini jaringan kartel ini mulai menggerakan para nelayan, orang-orang yang dibantu oleh Susi. Mudah-mudahan BIN benar ya. Kalau tidak fitnah, fitnah, fitnah.

Menurut kepala BIN, Ibu Susi sekarang sedang mengalami serangan balik yang sangat kuat, melalui demo nelayan dan sebagainya. Pihak kartel tidak senang jika Indonesia mencapai kedaulatan pangan. Mereka ingin bangsa ini bergantung pada impor dari negara-negara lain. (Kompas.com)

Budi Gunawan menjelaskan bahwa maraknya impor barang-barang dengan kualitas rendah dan palsu ke Indonesia, khususnya dari China, merupakan bagian dari grand design untuk melemahkan produk lokal. Dan ini melemahkan kemandirian ekonomi bangsa Indonesia.

Indonesia ramah terhadap pencuri?

Susi pernah mengatakan bahwa illegal fishing di Indonesia sudah berlangsung sangat lama -bahkan beberapa dekade. Dan mereka menyalagunakan keramahan bangsa Indonesia.

Bahkan dia menyindir bahwa orang Indonesia terlalu ramah, dan saking ramahnya,  pencuri pun jadi sahabat dan ijinkan masuk untuk mengobrak abrik dan menjarah isi rumah.

Dibutuhkan orang-orang yang bisa berpikir diluar kebiasaan (think out of the box) dan memiliki keberanian (dare to risk) untuk mengambil langkah tegas untuk mengakiri kebiasaan-kebiasaan atau praktek-praktek yang merugikan banyak orang. Ibu Susi sudah membuktikan itu dan semoga semakin banyak pemimpin di negara ini yang bisa mengambil tindakan berani seperti Susi.

Kita tunggu letupan dari sektor energi dan yang lainnya demi kedaulatan bersama…. Btw, bukankah menerbitkan Perppu Ormas juga sebuah langkah tegas??

 

Demikianlah catatan saya yang lahir dari KECEMASAN & HARAPAN sebagai anak bangsa.

Cileungsi, Jawa Barat,  15 Juli 2017

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *