Leadership

Pesan Paus kepada kardinal, uskup, dan pemimpin lain

Seorang gembala yang baik melindungi dombanya dan membawa yang hilang kembali ke kawanan

Pada 29 Juni lalu Paus Fransiskus memimpin Misa pengukuhan kardinal dan uskup agung baru di Basilika St Petrus, Vatikan, sehari setelah beliau menciptakan 5 kardinal baru, yaitu dari El Salvador, Mali, Laos, Swedia dan Spanyol. Untuk Laos, ini merupakan kardinal pertama bagi mereka.

Bukan hanya kardinal, ke-36 uskup agung yang baru diangkat dari 26 negara juga diundang paus ke Vatikan dan turut serta dalam Misa pada 29 Juni, yang merupakan pesta Santo Petrus dan Paulus, santo pelindung Vatikan dan kota Roma.

Dalam homilinya Paus Fransiskus mengatakan bahwa kardinal dan uskup agung harus bersedia mengambil risiko atas segala hal, sabar dalam menghadapi rintangan dan berani memikul salib seperti yang dilakukan Yesus.

Btw, pada kesempatan itu (setelah Misa) paus menyerahkan pallium kepada para uskup agung baru, termasuk Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko.

Sedikit tentang pallium, ini semacam selempang yang terbuat dari bahan wol yang diberikan oleh paus kepada uskup agung, yang dipakaikan sekitar bahu, tergantung dari depan dan belakang. (Lihat di sini untuk keterangan lebih lanjut). Pallium melambangkan persatuan seorang uskup agung dengan paus dan wewenang serta tanggung jawabnya untuk merawat kawanan domba yang dipercayakan kepadanya.

Terbuat dari wol domba, pallium adalah pengingat akan tugas dan kewajiban uskup untuk mencari domba yang hilang, memikulnya, dan membawanya kembali ke kawanan. Paus Fransiskus menekankan bahwa seorang uskup (agung) adalah menjadi gembala yang baik bagi kawanannya, membantu orang-orang yang dipercayakan kepada mereka.

Pemimpin harus ikut merasakan penderitaan

Paus mengingatkan bahwa kehidupan setiap rasul Kristus dibangun di atas tiga hal utama ini:

(1) doa yang konstan

(2) profesi/pengakuan iman secara tegas dan penuh semangat

(3) kemauan untuk menanggung penganiayaan.

Paus mengajak para kardinal, uskup, dan semua orang Kristen, untuk tidak menjadi orang yang hanya diam saja, duduk bermalas-malasan di kursi empuk, dan sibuk membicarakan tentang keadaan dunia. Lebih dari itu, mereka harus menjadi “rasul di perjalanan,” yang terbakar oleh semangat cinta akan Tuhan dan siap untuk mengorbankan hidup mereka.

Orang Kristen harus mengikuti Tuhan sepenuhnya dan hidup sesuai dengan jalannya, bukan jalan yang dipandu oleh kepentingan pribadi, jalan kehidupan baru, sukacita dan kebangkitan bersama Kristus, dan juga jalan yang melewati salib dan penganiayaan.

Sri Paus mengajak semuar orang beriman untuk menujukkan solidaritas dengan orang Kristen di belahan lain bumi ini yang dipinggirkan, difitnah, didiskriminasi, mengalami kekerasan dan bahkan kematian. Paus mengatakan bahwa tidak ada Kristus dan tidak ada orang Kristen tanpa salib, dan kebajikan Kristen bukan hanya masalah berbuat baik, tapi juga bisa hidup berdampingan dengan kejahatan.

Untuk bisa bertahan dalam segala hal, kata Sri Paus, doa menjadi sangat penting, yang berperan seperti air yang dibutuhkan untuk memelihara harapan dan meningkatkan kesetiaan. Doa membuat kita merasa dicintai dan memungkinkan kita juga untuk mencintai.

 

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *