Gairah Politik yang Membakar Hary Tanoe

Sharing is blessing....

Hary Tanoesoedibjo selanjutnya disingkat saja HT dulu sempat menjadi tokoh favorit saya. Tapi karena satu dan lain hal pria kelahiran Surabaya, 26-9-1965 ini tidak lagi menjadi tokoh favorit saya. Meskipun demikian dia tetap menjadi salah satu orang terkaya yang memiliki segala-galanya.

Hary Tanoesoedibjo ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus SMS ancaman sejak 23 Juni 2017. Kini ia dilarang untuk keluar negeri hingga proses hukumnya rampung. (Foto Kompas.com)

Dia punya banyak perusahaan, dari yang kecil sampai yang besar, hampir berada di semua lini. sebut saja salah satunya Bhakti Investama, sebuah perusahaan manajemen bisnis investasi yang tugas utamanya adalah membeli perusahaan, membenahi dan kemudian menjualnya kembali. Dia juga punya stasiun televisi, surat kabar, media online, bank, dan sebagainya. Pokoknya banyak.

Itulah kenapa saya mengagumi beliau, meskipun bukan favorit.

Dulu sebelum dia terjun ke dunia politik saya sangat kagum sama beliau. Kesuksesan dia membawa Group MNC menjadi salah satu kelompok usaha terbesar di tanah air patut diacungi jempol, berkali-kali pun tak masalah.

Tapi ketika dia masuk politik saya sudah mulai tidak enak hati. Gelisah. Tapi masih ada sesuatu yang mengenakkan ketika dia bergabung dengan Nasional Demokrat atau Nasdem pada tahun 2011-2013.

Bukan karena hal lain, selain karena waktu itu saya melihat Nasdem merupakan  “jalan tengah”  yang menawarkan sebuah antidot (antidote) atau penawar racun yang disebabkan oleh partai-partai politik yang lebih banyak menyebar racun daripada solusi bagi rakyat

Ketika dia bergabung dengan Nasdem, saya pikir okelah. Dalam benak saya HT serius dengan mimpinya untuk membawa perubahan dalam perpolitikan di Indonesia. Begitu dia memutuskan untu keluar dari Nasdem pun saya berpikir, okelah, politik memang kotor dan mungkin karena baunya terlalu menyengat maka dia memutuskan keluar.

Seperti katanya sendiri Nasdem bukan lagi menjadi tempat yang baik untuk menyalurkan idealisme. Belakangan saya  mendengar dia keluar dari Nasdem, bukan karena politik yang kotor tapi memang karena ia terlalu bergairah untuk menjadi petinggi negeri ini melalui mesin partai itu dan tidak diterima begitu saja oleh Nasdem.

Kemudian dia memilih untuk bergabung dengan Hanura pada 2013 namun keluar lagi pada 2014 untuk mendirikan organisasi massa yang kemudian statusnya ditingkatkan menjadi Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Dengan keluar masuk partai sudah kelihatan bahwa HT ini sudah menjadi politisi yang memiliki ambisi yang cukup kuat untuk mencapai pucuk tertinggi pimpinan negara tahu tempe ini.

Dengan meningkatkan status organisasinya menjadi partai politik, HT semakin merasa di atas angin. Begitu Perindo lolos verifikasi dan menjadi salah satu partai politik yang sah, api politiknya semakin menyala-nyala dan siap untuk membakar apa saja yang menghalanginya.

Semenjak ormas Persatuan Indonesia dideklarasikan menjadi Partai Persatuan Indonesia pada awal 2015, kiblat politik HT sudah mulai terlihat jelas dengan hadirnya petinggi-petinggi Koalisi Merah Putih atau koalisi partai oposisi.

Pada detik deklarasi kenaikan kelas menjadi Partai Perindo banyak tokoh-tokoh politik dari KMP yang hadir seperti Ketum PAN Hatta Radjasa, Presiden PKS Anis Matta, Ketum Golkar Aburizal Bakrie, dan sederetan politikus dari partai oposisi.

Menjadi oposisi pun berimbas pada pilkada DKI Jakarta di mana partai milik HT itu berkoalisi dengan partai-partai pendukung Anies-Sandi yang sebagian besar didukung oleh partai oposisi dari KMP. Dan mau tidak mau ia harus berseberangan dengan  Basuki Tjahaja Purnama yang diusung oleh PDIP, Nasdem, dan Hanura.

Namun kabar berseberangan itu bukan hanya pilihan politik, tapi kabarnya itu karena HT juga tidak senang dengan Ahok yang dikabarkan menentang beberapa upaya HT untuk membuka lahan bisnis di ibukota.

Ketika dia mendukung Anies-Sandi kekaguman saya pada HT semakin pudar karena seperti diketahui di belakang Anies-Sandi bertengger kelompok-kelompok ekstrimis yang getol memperjuangkan agar Ahok dipenjara.

Api dan gairah politik HT ini semakin berkobar, seolah-olah tidak boleh ada yang membendungnya di tengah jalan. Mungkin karena gairah yang seperti dinamit itu membuat HT tidak terlalu berpikir panjang ketika mengirim SMS ancaman kepada jaksa muda Yulianto, yang berbuntut pada laporan kepada polisi.

Sejak 23 Juni lalu HT sudah menjadi tersangka. Dan barusan dia dicekal untuk tidak boleh keluar negeri selama enam bulan ke depan demi kelancaran proses hukum yang membelit dirinya.

Bagaimana akhir dari gairah politik HT ini? Akankah dirinya mendekam di penjara? Saya berharap tidak. Tapi itu terserah proses hukum.

Jika memang dia akhirnya harus berada di balik jeruji besi, maka itu artinya ambisi politiknya kandas di tengah jalan karena pilpres 2019 tidak lama lagi. Sedangkan hukuman atas tindakan ancaman atau intimidasi yang ia lakukan terhadap penegak hukum setidaknya empat tahun.

I’m sorry for you, Sir….

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *