Agama

Catat! Tuhan Bukan Milik Siapa-siapa

Suatu ketika secara kebetulan saya bertemu dengan seorang bapak ketika kami mendatangi tempat perbaikan cat dan body mobil yang penyok di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Jika anda juga kebetulan lewat di situ ada plang di pinggir jalan yang ada tulisan ‘cat duko dsb. Di situ tempatnya, salah satu dari lokasi itu.

Apapun agama kita, kita semua adalah mitra dalam merawat alam semesta dan ciptaan Tuhan

Usia bapak itu mendekati tujuhpuluh tahun. Sudah berkeluarga, istri satu, dan ada beberapa cucu. Cicit belum punya katanya karena terlambat menikah. Dan anak-anaknya juga ikut-ikutan menunda nikah.

Ketika bapak itu melihat saya, mungkin karena tampang saya ke-timur-timur-an dia bertanya, “Bapak orang Ambon?” Saya bilang ‘Bukan, Pak.” “Bapak orang NTT?” tanya bapak itu lagi.

Saya balik bertanya, “Menurut bapak?”

Dia bilang “Mana gua tahu….Tapi kalau bukan Ambon, NTT. Atau Timor-Leste?”

Saya lalu bilang dengan pandangan ke tempat lain karena sedikit tidak enak hati. ‘Pak, saya orang Indonesia, lahir dan dibesarkan di Flores, NTT.” Bapak itu diam, tampak muka sedikit serius bercampur asem, mungkin karena merasa dipermainkan atau mungkin jawaban saya menohok karena saya memulai dari ke-indonesia-an saya.

Percakapan tidak sampai di situ.

“Anda berarti Katolik dong!” kata bapak itu, bukan lagi pertanyaan melain sebuah statement, pernyataan, sebuah konfirmasi atas identitas saya sebagai orang Flores garis miring NTT.

“Kalo bapak, Muslim?” tanya saya.

“Bukan!”

Hindu?

“Bukan!”

Budha?

Bukan?

Konghucu?

Apalagi…

Kok begitu pak?

Dia sudah memikirkan, apakah harus menjawab pertanyaan saya atau abaikan saja. Dia sudah ancang-ancang untuk menjawab, tiba-tiba dia melihat ke mobilnya dan berteriak kepada orang yang sedang mengecat mobilnya …”Dino…yang ini ditambahin sedikit lagi, biar konclong ya.”

Kemudian dia bersabda..

Adik…tidak apa-apa ya saya panggil adik. Lanjutkan abang, kata saya.

Saya ini sudah bosan memiliki agama. Dulu saya dilahirkan sebagai seorang Kristen. Sampai besar saya memeluk agama itu. Tapi saya tidak puas. Karena hampir setiap hari saya diajarkan bahwa kita harus berdoa, menyembah Tuhan, memuja-muji dia. Lama-lama saya bosan.

Lalu saya menjadi mualaf, pindah ke agama Islam. Saya senang menjadi seorang Muslim. Tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar lima tahun. Saya bosan juga. Hampir setiap hari mendengarkan kotbah untuk membela Tuhan. Saya jadi bertanya pada diri sendiri ‘saya belum pernah melihat Tuhan, bagaimana saya harus membela-Nya?”

Kemudian dia memutuskan untuk tidak masuk agama manapun. Katanya kalau mengambil keputusan pada saat sedang galau berlebihan, bisa membawa bencana. Ia memutuskan untuk tidak mendengarkan apapun yang terkait agama. Hingga saat bertemu saya belum lama ini lalu di Kramat Raya, dia tidak menjadi bagian dari salah satu agama.

Tapi di KTP-nya masih ada agamanya. Tapi dia tidak mengatakan agama apa.

Ada yang sangat menarik dari bapak ini. Maaf saya lupa namanya, tapi kepalanya sebagian besar bercahaya, ada rambut sedikit dan mayoritas rambut-rambut itu berwarna putih. Tinggi mungkin 170 cm, tidak gendut, dan tidak juga kurus. Body atletis. Kalau anda melihat orang-orang dengan ciri-ciri seperti itu bisa tanya, pernah bertemu dengan SH tidak? Bercandaa…

Pesan yang dia sampaikan begini.

‘Adik, Tuhan itu tidak perlu disembah dan dipuja puji. Tuhan itu tidak membutuhkan kata-kata pujian. Kamu di Katolik itu menyanyi puji-pujian, untuk apa?

Tuhan itu sudah memiliki segala-galanya. Dia mahakuat, mahatahu, mahadahsyat, dan sederetan maha.. lainnya. Tuhan tidak perlu dibela. Tuhan tidak perlu kita mengerahkan pasukan untuk membela dia.

Jangan berpikir bahwa kita bisa memiliki Tuhan. Jangan mengklaim bahwa Tuhan itu milik kita. Jangan berpikir bahwa dengan menjadi orang beragama, kamu sudah boleh mengklaim memiliki Tuhan.

Maksudnya, dengan Tidak menjadi anggota satu agama bapak sudah memiliki Tuhan?

“Bukan begitu, adik. Sepeti saya sudah bilang, saya tidak perlu memiliki Tuhan. Karena dia sudah memiliki saya. Kalau kamu memperalat agamamu untuk mendiskreditkan orang lain atau membenarkan apa yang anda perbuat terhadap orang lain dan dunia ini, itu artinya kamu menempatkan Tuhan di dalam selimut, atau tembok rumah ibadat.”

“Dengan menyembunyikanNya dalam rumah ibadat, kamu tidak akan pernah tahu siapa Tuhan itu sebenarnya. Dia itu ada di mana-mana, mahamengetahui. Orang yang tidak beragama pun mengetahui siapa Tuhan itu, karena dia ada di semua tempat dan terbuka bagi siapa saja.”

“Tuhan itu ada di jalan, di pasar, di bawah kolong jembatan, di tempat pelacuran, dan sebagainya. Kunjungilah Tuhan yang ada di tempat-tempat itu, karena Tuhan yang sebenarnya ada di sana, dalam kehidupan orang-orang di sana, bukan yang kamu puja-puji di gereja.”

Wah, gerah juga dengarnya. Tapi memang Tuhan itu bukan milik siapa-siapa.

Tidak mau kalah sama bapak itu saya bilang bahwa tidak ada agama yang mengajarkan bahwa mereka memiliki kebenaran mutlak, karena itu adalah atribut Tuhan. Yang mutlak itu hanya Tuhan. Agama adalah instrumen untuk mendekatkan manusia dengan Tuhan sebagai penciptanya.

Agama adalah salah satu jalan, bukan satu-satunya. Masih ada jalan lain di luar agama yang bisa menjadi medium untuk mendekatkan manusia dengan Sang Pencipta.

Jangan salah, ya pak. Tuhan itu membutuhkan manusia. Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam gambaran dan rupa dia sendiri. Tujuannya adalah untuk menjadi mitra Tuhan dalam merawat bumi dan segala ciptaan.

Percaya atau tidak sama Tuhan, selagi kita memperlakukan sesama dengan adil dan benar, dan menjaga alam semesta dengan baik, Tuhan tidak akan bertanya ‘agamamu apa, bro?’

Bukankah dengan pemahaman seperti itu kita -Tuhan dan manusia- saling memiliki?

Tanyakan sama mobil yang bergoyang: siapa inventornya, apa tujuannya, mengapa dia bergoyang, apakah dia akan bergoyang terus, dan sebagainya….

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *