Current Affairs, Korupsi

Bahaya Kalau Menganggap Korupsi Bukan Lagi ‘Extraordinary Crime’

Baru-baru ini banyak yang mencerca Benny K Harman di media sosial karena pernyataannya yang menilai tindak pidana korupsi sudah turun kelas, dari sebelumnya merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) menjadi kejahatan biasa atau ordinary crime.

Korupsi itu kejahatan luar biasa, bukan pencurian biasa. (Foto: Tempo.co)

Saya memahami itu. Namun saya membacanya sebagai sebuah kondisi, kenyataan yang terjadi saat ini di mana tindak pidana korupsi sudah menjadi hal yang biasa, karena di mana-mana, di daerah manapun, korupsi sudah ada. Logis kan kalau kita menarik kesimpulan bahwa itu bukan luar biasa lagi, karena bisa ditemukan di mana-mana.

Pada level itu saya kira tidak menjadi masalah. Dan penjelasan media tentang pandangan beliau itu terputus, karena tidak menjelaskan lebih banyak apakah memang DPR tidak mau menganggap korupsi sebagai kejahatan luar biasa?? Kalau melihat track record Benny K Harman, saya tidak melihat pernyataan beliau sebagai upaya untuk melunturkan semangat perang melawan korupsi. (Sorry ya, saya tidak membela beliau di sini, bertemu saja tidak pernah).

Akan tetapi akan sangat berbahaya jika DPR dengan tahu dan mau menganggap korupsi bukan lagi kejadian luar biasa. Karena itu akan berdampak sangat luar biasa.

Yang terutama ini akan melemahkan semangat perang melawan korupsi pada level pembuatan undang-undang dan penegakan hukum. ‘Ah, ini kan bukan sesuatu yang luar biasa lagi. Kenapa harus cape-cape?” Jika pikiran semacam ini terjadi dan dipupuk, hancur sudah negara ini. Apalagi yang seringkali terjerat kasus korupsi adalah anggota dewan, pusat maupun daerah.

“Menurut saya, korupsi tetap harus dipertahankan sebagai extraordinary crime yang membutuhkan langkah-langkah luar biasa (extraordinary measures), lembaga yang luar biasa (extraordinary institution) dan orang-orang luar biasa (extraordinary people) untuk melawannyanya.”

Kalau menurunkan kelas korupsi dari kejahatan luar biasa ke kejahatan biasa hanya karena sudah banyak tindak pidana korupsi terjadi, itu kejahatan luar biasa juga. Tanya kenapa? Karena itu indikator bahwa korupsi itu hanya dilihat sebagai tindakan mencuri uang,suap menyuap, sedangkan cara sistematis dan teroganisir dianggap tidak penting.

Konspirasi untuk melakukannya saja -meskipun hanya melibatkan hanya 2-3 orang- itu sudah luar biasa. Jumlahnya mungkin saja tidak besar, per kasus tipikor. Tapi kalau digambungkan dari seluruh penjuru negeri, apa tidak tersedak kita?

Dan yang paling fundamental,  korupsi yang dilakukan secara TSM (terstruktur, sistematis, masif) adalah pelanggaran hak asasi manusia, terlebih lagi hak-hak orang miskin. Karena korupsi membuat orang miskin menjadi tambah miskin. 

Menurut rektor Universitas Gajah Mada tahun 2013 uang negara yang hilang akibat korupsi mencapai Rp 250 triliun. Masih waraskah kita kalau menyebutnya kejahatan biasa-biasa saja? Karena itu janganlah terbawa arus perdebatan di Senayan. Korupsi tetaplah kejahatan luar biasa.

Kibarkan semangat perang melawan korupsi.

 

Demikianlah catatan saya yang lahir dari “kecemasan dan harapan” sebagai anak bangsa

Jakarta, 12 Juli 2017

 

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *