72 Tahun Indonesia Merdeka, Kesenjangan Tetap Tajam

Sharing is blessing....

Dua minggu lagi pada 17 Agustus Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-72. Jika itu usia manusia, seharusnya berarti sudah banyak makan garam dan tambah bijaksana. Dalam beberapa hal memang ya. Tapi dalam banyak hal lain sebagai sebuah negara besar mengalami tantangan luar biasa.

Saya terkesan dengan pidato Zulkifli Hasan, politisi Partai Amanat Rakyat (PAN) dan Ketua MPR RI yang secara jujur mengatakan bahwa ada banyak sekali kesenjangan yang dihadapi bangsa Indonesia, dalam berbagai aspek.

Jumlah orang miskin di Indonesia masih tinggi, sekitar 27 juta orang. (Foto: Republika.co.id)

Dalam pidatonya di Bandung, 5 Agustus 2017, Zulkifli mengatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai kesenjangan yang dapat meruntuhkan nilai bangsa.

Ia mencontohkan kesenjangan antara pusat dan daerah, Jawa dan luar Jawa, kesenjangan antara kaya dan miskin.

Zulkifli mengatakan bahwa kesenjangan tersebut dapat menghasilkan kecemburuan di tengah-tengah masyarakat, dan harus dihentikan agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Apalagi misalnya kalau bicara soal kesenjangan antara yang kaya dan miskin, maka kecemburuan itu bisa mengarah pada ketidaksukaan pada kelompok tertentu.

Yang dimaksud adalah ketidaksukaan terhadap kelompok atau segelintir orang yang menguasai kekayaan negara. Ini bisa berbuntut panjang.

Ini mengingatkan kita pada data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa hingga September 2016  jumlah penduduk miskin di Indonesia masih tinggi, masih di atas 27,76 juta orang, atau sekitar 10% dari populasi Indonesia. Pada tahun 2017 jumlah orang miskin masih bertengger di seputar angka itu.

Dari total 27,76 juta itu, sebanyak 62,24 persen atau 17,28 juta orang berada di kawasan pedesaan, sedangkan sisanya 37,76 persen atau 10,49 juta penduduk miskin berada di perkotaan.

Kebanyakan dari penduduk kategori miskin itu berada wilayah timur Indonesia, seperti di Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Gorontalo.

Mengutip laporan bertajuk Global Wealth Report tahun 2016 oleh Credit Suisse, Indonesia menduduki peringkat keempat dalam daftar negara dengan kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia, setelah Rusia, India, dan Thailand.

Dalam laporan itu, angka kesenjangan ekonomi yang terjadi di Indonesia mencapai 49,3 persen. Itu artinya, satu persen (1%) orang terkaya di Indonesia mampu menguasai 49,3 persen total kekayaan negara.

Peringkat pertama diduduki oleh Rusia di mana sebanyak 74,5 persen kekayaan negara bisa dikuasai oleh orang kaya di negara ini, disusul India (58,4 persen) dan Thailand (58 persen).

Menurut Credit Suisse, kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin semakin besar sejak dunia berupaya untuk sembuh dari krisis global tahun 2008, dan menyebutkan bahwa 50 persen orang termiskin dunia hanya mampu menguasai total 1 persen kekayaan. Sementara 10 persen orang paling kaya di dunia mampu mendapat 89 persen kekayaan.

Beberapa bulan lalu Sekjen PBNU A. Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa 85 persen dari kekayaan Indonesia dikuasai oleh 35 orang saja.

Ini parah sekali bukan? Kalau satu persen orang kaya itu terkena demam, seluruh Indonesia ikut-ikutan sakit.

Karena itu mari kita mendukung setiap langkah baik pemerintah pusat dan daerah, organisasi maupun individu untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh warga negara Indonesia.
 
TAPI INGAT……
 

Jangan cemburu sama orang yang sudah memiliki banyak harta. Karena mereka juga memperolehnya melalui kerja keras. 

Kerja….kerja….kerja….dan terus bekerja. Semoga ketika kita merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-75 nanti, jumlah orang miskin semakin sedikit. 

Salam hangat dari Cileungsi, Jawa Barat

SiktusHarson.com

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *